Jumat, 28 November 2014
Sabtu, 22 November 2014
artikel kimia
Artikel kimia gren
indusrti sumber daya
para ahli perekonomian serta ahli
lingkungan berusaha menemukan konsep terbaik demi terwujudnya Green Industry
yang dapat diterapkan diberbagai belahan dunia dan pada akhirnya di tahun 2009
pencarian itu menemui titik terang dimana beberapa Negara asia dan Amerika
serta didukung oleh PBB lewat anak organisasinya UNEP (UN Environment
Programme) mempersembahkan hasil awal demi terwujudnya hal itu.
Jika ditelaah, hasil dari konfrensi
tersebut sebenarnya tidak membahas jauh dari apa yang telah diterapkan pada
ilmu Manajemen Operasi, yakni EFISIENSI. Sumber daya perlu untuk diatur
sedemikian rupa hingga terciptanya Green Industry. Karena konsep dasar dari
Green Industry adalah efisiensi sumber daya, tanpa pengaturan yang baik dan
system manajemen yang ketat, maka inisiasi ini akan menjadi sangat sulit untuk
diterapkan.
Green Industry menitikberatkan pada
penggunaan Resources yang baik, Efisiensi bahan baku, energy, sampah,
pengelolaan karbon, bahkan transportasi menjadi hal yang utama pada konsep ini.
Walau tanpa melupakan penggunaan energy alternative yang menghasilkan karbon
lebih sedikit juga merupakan salah satu cara dalam green industry. Tetapi dalam
bahasan kali ini, penulis akan menelaah usaha tercapainya green industry dengan
pendekatan keilmuan Manajemen, Khusus Manajemen Operasi dan lebih spesifik pada
Efisiensi.
Sebagai
tindak lanjut dalam efisiensi sumber daya, ada beberapa hal yang harus kita
perhatikan, yakni :
· Pemaksimalan pemanfaatan sumber
daya (resource)
· Low-carbon Industry
· Good Transportation system
Pemaksimalan pemanfaatan sumber daya (resource)
Ketika bahan
baku ditetapkan oleh perusahaan pada hilir proses produksi, perusahaan telah
menghitung berapa sumber daya yang diperlukan untuk memroduksi sedemikian
produk dengan kuantitas tertentu. Tetapi apakah sumber daya ini bisa digunakan
sepenuhnya secara maksimal atau tidak tergantung pada midstream atau proses
pembuatan.
Ketika
proses pembuatan dilakukan, pada saat inilah konsep efisiensi harus diterapkan.
Sebuah perusahaan pembuat otomotif akan memperhitungkan berapa jumlah bahan
yang diperlukan untuk membuat 100 buah jenis kendaraan yang sama. Ketika
perusahaan tersebut dapat memaksimalkan sumber daya yang dipakai, maka dengan
membeli bahan yang berkecukupan pun tidak akan menyebabkan kekurangan bagi
perusahaan dalam memproduksi jumlah kendaraan tersebut atau bisa disebut
“Produksi Pasti Pas”.
Dengan
adanya efisiensi dalam perusahaan mengindikasikan bahwa makin sedikitnya sampah
yang dihasilkan dalam proses produksi sebelum akhirnya sampe ke hilir. Sumber
daya dimanfaatkan sampai titik maksimalnya sedemikian rupa hingga mencapai
output yang optimal. Bermula dari titik inilah Green Industry terbentuk, “Less
Waste” berarti pencemaran dikurangi, yang berarti industri dapat membantu
mempertahankan ekologi yang baik dan berkesinambungan tanpa mengindahkan pendapatan
yang maksimal. Karena permasalahan yang timbul saat ini adalah pabrik masih
belum mampu menanggulangi sampah hasil produksinya, sampah tercipta tetapi
produksi kurang maksimal dan banyak barang produksi yang tidak terpakai.
Alangkah sayangnya sampah ini terbuang tetapi produksi perusahaan tidak
optimum. Lagipula, perusahaan memerlukan waste Management dalam proses
produksinya, demi mendukung Green Industry.
Akan tetapi
dalam prakteknya, perusahaan jangan sampai melupakan Total Quality Management (TQM).
Walaupun perusahaan diharapkan untuk tetap mempertahankan efisiensinya,
perusahaan juga diharapkan tetap mengacu untuk menghasilkan produksi tanpa
kecacatan atau Zero Defect. Jangan sampai demi menggunakan sumber daya yang
maksimal, malah melupakan mempertahankan kualitas produk. Just In Time
merupakan salah satu solusi dalam pengadaan bahan baku sehingga bahan baku
tidak terdepresiasi lebih besar nilainya di dalam Inventory.
Low-Carbon Industry
Perusahaan
juga dapat melakukan Green Industry dengan melakukan manajemen dalam penggunaan
bahan bakar dan energy. Bahan bakar sangat berperan penting dalam proses
produksi atau midstream. Tidak ada produksi yang dapat dilakukan tanpa
menggunakan bahan bakar sebagai penggerak mesinnya. Akan digerakkan dengan apa
jika tidak ada bahan bakar sebagai sumber energinya.
Di
Indonesia, masih banyak perusahaan yang masih menggantungkan produksinya pada
penggunaan Bahan Bakar Fossil. Bensin memiliki oktan sebanyak 88 ikatan, hal
ini menyebabkan makin banyak carbon yang akan terlepaskan dalam penggunaannya.
Efisiensi dalam penggunaan bahan bakar disini juga menjadi sangat penting dalam
proses di midstream.Bayangkan betapa banyaknya asap yang mengadung CO (Carbon
Monoksida) jika perusahaan tidak mengatur dengan baik bahan bakar yang
digunakkannya.
Selain
pengaturan, perusahaan juga dapat melirik penggunaan bahan bakar terbarukan
(renewable energy) untuk mengurangi ketergantungan terhadap Bahan Bakar Fossil
dan penggunaan teknologi termuktahir untuk mengurangi volume asap akibat
penggunaan bahan bakar fossil.
Good Transportation System
Efisiensi
juga diperlukan dalam pengaturan jalur distribusi sebuah perusahaan. Efisiensi
biaya pengiriman serta penggunaan bahan bakarnya pun harus diperhitungkan.
Secara sederhana, semakin baik perusahaan dalam melihat jalur dan pemetaan yang
baik dengan bantuan Center of Gravity serta Global Positioning System, pemilik
keputusan akan sangat dibantu dalam pengaturan terbaik dalma proses
trasnportasi. Biaya dapat diperhitungkan dan bahan bakar dapat diatur.
Jika
perusahan tidak bijak dalam penggunaan biaya dalam transportasi, maka akan
sangat merugikan perusahaan dalam penghitungan Income Statement. Jika tidak
bijak dalam menentukan, maka penggunaan bahan bakar pun menjadi tidak bijak dan
pada akhirnya hanya menambah emisi yang berdampak langsung pada alam.
Kebijaksanaan perusahaan pun menjadi kunci penting dalam proses trasnportasi
dari Up-Stream ke Down-Stream.
Jumat, 21 November 2014
Langganan:
Postingan (Atom)